i once had a memorable conversation with a gojek driver on my firsts day of college. knowing i was a freshman, he asked me a such a heavy question to answer (at least for me).
i don't wanna forget some particular moments worth writing in my life; moments I would recite to my kids someday in the future.
gue sedih menerima fakta kalo gue sekarang sangatlah illiterate. ga kayak dulu, sekarang gue ngerasa sulit banget untuk nulis sesuatu, even the smallest random things. kalo liat archived gue dari jaman 2010, hal gak penting sekalipun kayaknya bisa lancar aja gue tulis. kemampuan baca gue jauh berdegradasi. books used to be the things i easily consumed back then, novel bisa beberapa jam kelar gue baca. now... i haven't even finished my Aristotle & Dante Discover the Secret of the Universe i bought last year. so... pardon my writing, will you?
anyway, it's been 2 weeks since i've had my classes from home due to this pandemic virus.
this covid-19 pandemic situation sucks, indeed. perkuliahan jarak jauh bikin situasi kadang jauh lebih capek dibanding kelas biasanya. tugas gue jadi lebih banyak, ujian lebih kecot dan traumatis, kelas online yang ga kondusif (beberapa mata kuliah gue bahkan semacam abandoned oleh dosen), bikin mata gue pusing juga most of time of the day mantengin laptop. ah, not to mention prapid & prapid just got cancelled. sedih banget gaada memori mooting di semester 6. meskipun dulu (waktu kuliah tatap muka) capek tiap hari pulang malem gara-gara latihan prapid praper, jujur gue enjoy banget jalaninnya. nggak cuma dari segi akademis, gue juga dibikin parno tiap hari karena situasi ini. selalu ngerasa kotor lah, pusing dikit parno, batuk dikit degdegan.
things have changed a lot.
but it wasn't all bad though, if we try to look the other way.
situasi class from home bikin gue ga harus catokan tiap hari. nor wearing any make ups.
things have changed too in my family.
to be frank, i couldn't recall when was the last time my family gathers on weekdays. ada di rumah bareng mba ajeng, mba yaya, dan papa sehari-hari di rumah somehow feels a lil bit strange... yet it feels so warm. like those good ol days; childhood days. udah lama ga ngalamin berantem rebutan ayam mana yang lebih besar atau paling banyak kulitnya, nyusun plan snack apa yang kita buka hari ini-besok-lusa, rebutan siapa yang tidur sama boba, saling nungguin biar bisa makan siang bareng, kumpul deketan dan ngobrol di ruang tv meskipun kadang masing-masing juga concern sama buku/gadget/aktivitas masing-masing. well, i must say being able to be home with my family is the most luxurious thing i obtained from this covid-19 situation.
gue: *forwards notes*
gue: i can't accept any advice right now
mama: iya mama ngerti. mama percaya kamu akan bisa ngelewatin ini semua. pasti capek kalo igin marah keluarin semuanya sekarng, nangis sebanyak-banyaknya. mama nggak akan ngash ceramah apa-apa, tapi kalo kamu ngerasa butuh bantuan, kamu boleh ngomong sama mama, mba ajeng, atau bantuan profesional sekalipun. dengan kamu sadar sendiri kalo kamu stres, itu jauh lebih baik daripada nggak sadar sama sekali. ini bukti kalo kamu masih berusaha untuk ngatasin masalah yang lagi kamu hadapin. nggak mudah memang, tapi semuanya bisa lebih cepat ditangani kalo kamu mencari bantuan dari orang yang tepat. emosi yang kamu luapin melalui tulisan di notes bisa jadi salah satu cara untuk membuat pikiran lebih tenang. nangis sebanyak-banyaknya, tulis sebanyak-banyaknya. kalo perlu marah, nggak ada salahnya untuk ngomong kasar. toh itu notes yang tulis sebagai bentuk luapan emosi. tuangin semua kata-kata yang ada di pikiran tanpa sensor sedikitpun. kalo memang lewat tulisan belup cukup, osya nggak mau cerita ke amma, mba ajeng, atau ke teman sekalipun, kamu boleh minta bantuan konseling. ini salah satu cara yang mama bisa kasih sebagai tanda mama percaya sama kamu dan dukung kamu untuk ngelewatin masalah yang lagi kamu hadapin. kapanpun osya mau dan butuh, osya boleh minta bantuin ini kapan aja
i swear i got the best mother in the world.
a few days after felt so.. bland? i'm not sure what's the right word to describe the days after. yang jelas, perasaan gue jauh lebih baik dan gue mulai bisa coping dan berdamai dengan keadaan gue saat itu; jadi gue memutuskan untuk nggak jadi mencari jadwal sesi konseling.
sekarang?
i feel pretty normal; both physically and mentally. ever since my first ever mental break down, i learn something very important. mungkin klise; but it is really okay to feel not okay. kita manusia yang punya emosi; bukan hal yang salah untuk meluapkan atau nunjukkin ekspresi itu. it is okay to feel sad and/or stressed, as long as we know how to cope and deal with it. but when we don't, it's okay to seek for help.
well, i guess we are both strong and fragile creatures, aren't we?
it felt worse than a heartbreak.
siang kemarin gue sampai ke rumah dari perjalanan jakarta-bandung.
and in all of sudden, for the first time that i could remember,
i was emotionally naked.
It was a late night drive after the concert. Truth be told, he couldn't care less about the Tchaikovsky nor the Max Reger. He grew up listening to Muse and Red Hot Chili Peppers. Nonetheless, he didn't mind at all spending the whole night listening to not-so-his kind-of-music as long as she was there; and to know that she was very delighted.
He blew his cigarettes out through the window and turned his head, "The music? Nope. But you are."
"Me?"
"I believe you have been hiding a secret power."
She chuckled, "I wish i had one though, like the Sailormoon."
"Whoever Sailormoon is, i guess she or he doesn't have one like yours."
Still, his fingers were busy stroking her hair. Little did he know, it was her favorite gesture of him.
"Uh huh? What is it?"
"You make other people capable to do things. That's your secret power. I'd probably nonchalantly turn on my earphone during the concert, listening to Thirty Seconds to Mars or something; or fallen asleep; or worse, walked myself out-- if it were not because of you. I'd switch the radio station, if it were not because of you mumbling and enjoying those weird rap songs. I'd probably never pick Big Hero 6 over Interstellar on the cinema, if it were not because of you getting crazy over Baymax. I'd probably never have a willing to visit the museum we went last week, if it were not because of you; who happened to be a history junkie --and i wanted to make you happy. Also.. I believe i wouldn't even dare to take the risk.. to share this very little space of my introverted self to anyone-- again, if it were not because of you.
You made me capable to do things. "
don't know what to do at the moment. writing about my current favs instead.
1. The End of the F***ing World
Ini gapenting, but before it was hype, gue nonton dari hari pertama premiere di Netflix! Bukan karena trailernya yang emang 'ngundang' orang-orang buat nonton film ini, tapi karena ada Alex Lawther! Gue obsessed sama Alex Lawther ever since dia main jadi Alan Turing kecil di The Imitation Game (aka my fav movieeee all time setelah Interstellar).
![]() |
| young alan turing and christopher |
His british accent on The Imitation Game kinda turned me on though... and it didn't change at all on this series! It's quite hard to describe him. He's creepy, cold, weird, and pretty... and handsome. Let's just say him pretty handsome shall we (because why not both)? As for Alyssa, she and her selfish traits kinda annoyed me! Tapi kalo gak selfish, impulsif dan kompleks, it wouldn't make her character as bold as she is right now. Hal lain yang gue suka dari film ini selain cast dan characternya adalah plotnya yang cukup unik, dan sinematografinya yang aesthetically pleasing! There's sort of vintage vibes in the movie that quite reminds me of Tarantino's movies.
However, TEOTFW would be a nice try for your easy sunday movie, though.
Another tv series yang lagi gue tonton: Black Mirror, Dear White People, Freaks and Geeks, dan How to Get Away with the Murderer.
2. Currently watching several TV Shows
Akhirnya ga US Masterchef dan America's Next Top Model lagi, haha. Gue suka banget nonton The Amazing Race, Beauty and the Geek, Little Big Shots (dan baru tau ada versi Indo-nya juga
Semenjak rajin nonton tv shows ini, cita-cita gue adalah ikutan The Amazing Race.
...
Next. Beauty and the Geek. TV shows Australia ini udah lama sebenernyaaa. Dulu gue nonton di TV tapi ga selesai. Jujur sebenernya gue ga suka-suka banget sama tv show ini karena somehow begitu offending dan menggeneralisasi beauty as smart dan nerd as ugly. Acara ini juga drama banget kayak The Bachelor. Tapi gue seneng aja ngeliat makeover nerds-nya yang asalnya culun (gatau beneran culun atau dibuat penampilannya seperti itu. kayaknya sih... sengaja) jadi ganteng. One person that amazed me was Gilbert, dari B&G season 3. In case you're wondering, coba deh liat di youtube. This TV show is not my fav, tapi boleh lah kalo lagi bosen dan butuh nonton sesuatu yang light.
Ada kesamaan di antara Little Big Shots dan Child Genius, yaitu nunjukin anak-anak kecil yang hebat. Little Big Shots bikin gue kagum sama anak-anak kecil yang talented abis, jokesnya Steve Harvey lucu, dan yaah.. entertaining. Meanwhile nonton Child Genius bikin gue ikut stres ngeliat bocah bocah yang born as a genius berkompetisi satu sama lain, dicekokin pelajaran dan dipaksa aiming highest scores as if it's the only thing that matters. Tapi ya bikin gue kagum (sekaligus ngerasa debu) juga nontonnya.
Another tv show yang gue suka banget nontonnya adalah Unique Sweets & Guilty Pleasures . SOOO PLEASING & MOUTH-WATERING NONTONNYA. And it's funny how the hosts are so dramatic and hilarious while describing the foods.
Last but not least gue lagi suka nonton The Story of God-nya Morgan Freeman. Bisa ditonton di National Geographic, basically acara ini nunjukin perjalanannya Morgan Freeman keliling dunia buat belajar berbagai agama dan nyari eksistensi Tuhan. So insightful.
3. I created a Youtube channel
Impulsivity. Isinya cuma video iseng yang gue buat dan playlist sih. Tapi boleh laah mampir trus like atau subscribe? Type my name, okkk. Or simply click this link.
4. I'm beginning to run again
Back then in junior high school, terutama kelas 9, gue sukaaa banget lari dan olah raga di rumah. Seminggu bisa beberapa kali. School made me do it sih sebenernya. Di SMP gue selalu ada ujian lari dan kalo ga lulus batas waktu minimal bakal disuruh remedial (dan lari ulang, sigh) jadi mau ga mau harus latihan lari. Lama kelamaan jadi rutin. Tapi begitu masuk SMA dan PE-nya nggak begitu 'serius' gitu, itungannya gue ga pernah olah raga selama SMA wkwkw yang ada malah mabal atau cule lari bareng sama Ami. On this holiday semester, i'm forcing my body to run and do sports again. Sedih banget badan gue langsung sakit sakittt huhu karena sejarang itu olah raga. Tapi gapapa for the healthier me!!! (major reason-nya sih sebenernya karena baju-baju gue udah sempit dan pada gak muat.... hehehehe. Bye.).
![]() |
| RUN FORREST RUN |
Remember when i promised i was going to post about UI soon (on my chatbox)? Well.. turned out it's not-so-soon, karena saat ini gue udah ngelewatin semester pertama dalam perkuliahan (ada ga sih ungkapan lain dari time flies?).
Life is strange these days.
Hi everyone! It's august already. Sebelumnya, apa kabaaar readers saya semuanyah? (iya yang barusan jijik banget kok iya) Anyway, gue (HAHA labil ya kadang aku kadang saya kadang gue kadang aing) senenggg banget setelah sekian lama nggak buka blog dan nggak ngepost, ternyata masih ada yang berbaik hati mau mampir dan baca postan aku bahkan sampai yang jadul jadul (liat dari statistic, hehe!). Feels so good, tau kalo ada orang yang mau baca tulisan gue.
So, basically post ini bakal kayak semacam 'penebus dosa' karena gue nggak ngepost samsek di bulan Juli. I don't want to forget every single thing that happened in my life pas dibaca kalo udah gede nanti. I want this blog to be my legacy. Supaya anak-anak gue nanti (iya mikirnya kejauhan tau kok tau) kalo nanya 'Mama pas SMA ngapain aja sih kerjaannya? Masa SMAnya rame ngga? Trus gimana kehidupan jaman mama dulu?' (geer banget btw bakal ditanya kek gini yak), gue bisa ceritain itu semua tanpa lupa detail-detail kecilnya. Uuuu so kyoot.
Hm, gue point aja ya biar ceritanya lebih rapi.
1. 1 Juli: Tragedi Nenek & Tabrakan
Duh ini dijamin banget sih momen SMA yang nggak bisa dilupain sampe gede. Tanggal 1 Juli tuh memorable banget. Banget. Jadi, tanggal 1 Juli gue, Hani, Jilan, Manda, Indri, Anas, Mayang sama Ami rencana mau nge-surprise-in belated birthday-nya Monica sama Cindy. Kita janjian di Eat Boss sekalian buka puasa bareng, sebelumnya ngedekor-dekor tempatnya dikit pake balon plus perintilannya. Tapiii sayangnya fail gara-gara mereka keburu dateng sebelum lilinnya siap... heu tae. So yaudasiii akhirnya kita masang lilin bareng-bareng di pizza satumeteryangternyatagaksatumeter. Beres nyanyi happy birthday, make a wish, foto foto lalala akhirnya kita makaaan sampe jam set8an trus ternyata makanan kita pada ngga abis, karena pesennya kebanyakan. Dari situ kita juga udah gabut dan pengen nyari tempat buat ngopi, akhirnya kita caw ke dua buat ngasih makanan yang masih banyak kesisa buat Pa Dian dkk. Di mobil Hani kita bersarden ria bertujuh (Cindy misah, Ami sama Indri ngga dateng) caw ke dua dan ternyata tutup ngga ada orang. Bingung kan kita mau kemana... akhirnya muter-muter aja ngga ada tujuan sampe mo nyari tempat yang enak (sekalian mau bagiin makanan juga).
NAH. Akhirnya, di Gandapura kita ngeliat nenek-nenek jalan sendirian di pinggir jalan. Mon sama Hani turun buat ngasih makanan ke si nenek, yang lainnya nunggu di mobil. Eh trus tiba-tiba mereka balik lagi panik,
"Jil, ini gimana neneknya kasian nggak inget jalan pulang!"
Wadu.
Yaudah aja kita semua sisanya turun dari mobil trus ngajak ngobrol si nenek, sambil minggirin dia dari jalan yang kena ujan. Sumpah, ini kasian banget, ngga boong. Si nenek nggak inget apa-apa dan lupa jalan pulang. Dia bilang tadi sore abis dibawa sama anaknya trus diturunin di daerah situ. Anaknya nyuruh dia jangan pergi kemana mana dan ditinggalin gitu aja sampai malem nggak pernah balik lagi. Si nenek linglung trus jalan jalan kebingungan, keujanan sambil menggigil nggak tau harus kemana... trus si nenek bilang dia cuma inget rumahnya ada di daerah Batujajar. Gimana bisa si nenek dibawa dari Batujajar ke Gandapura yang jauh parah jaraknya trus ditinggalin gitu aja coba?
Jadi... ternyata si nenek dibuang sama anaknya dong.
Kita semua bingung. Antara nganterin si nenek ini ke panti jompo atau ke polsek yang deket situ aja. Sambil ngajak ngobrol si nenek (yang susah diajak ngomong karena cuma bisa bahasa sunda hiks), tiba-tiba ada mas-mas naik motor gitu ngelewat trus ikut nimbrung. Jadi, si mas-mas ini juga nyadar daritadi si nenek mondar-mandir kayak kesesat gitu nggak tau arah jalan pulang. Si nenek juga disitu bilang kalo dia cuma inget memorinya tiap siang doang.
"Saran saya mah ya, mending bawa ke kantor polisi aja. Jaga-jaga aja, takutnya mah modus."
Make sense dan saran yang cukup wise menurut gue. Selain karena gue juga nggak tau proses masukin orang ke panti jompo tuh gimana--ya masa langsung nitipin gitu aja kaya kucing, nggak mungkin kan?--, it's such a scary world out there. Kalo baca berita sekarang, dunia udah gila dan stranger kadang bikin gue parno. Jadi ya cari aman aja, kita bawa si nenek ke polsek deket situ. Di mobil, si nenek yang linglung nanyain terus-terusan 'kita mau kemana?'.
"Ini teh nenek mau dibawa kemana?"
"Mau ke kantor polisi nek."
"Da nenek mah teu boga salah naha di bawa ke kantor polisi?"
"Engga nek, biar nanti dianterin pulang sama pa polisi."
3 menit kemudian...
"Ini teh nenek mau dibawa kemana?"
"Mau ke kantor polisi nek."
"Da nenek mah teu boga salah naha di bawa ke kantor polisi?"
"Engga nek, biar nanti dianterin pulang sama pa polisi."
2 menit kemudian...
"Ini teh nenek mau dibawa kemana?"
Huff.... skip.
Akhirnya kita sampe di polsek. Jadi, begitu kita nyampe polsek, si nenek freaked out karena dia ngerasa takut dipenjara padahal dia nggak punya salah apa-apa. Dia cuma kepengen pulang ke Batujajar. Si nenek nangis dan sumpah... kita di situ langsung diem kepengen ikut nangis juga, speechless, bingung harus ngapain. Si nenek nggak mau stay di situ karena takut dan kita pun bingung karena udah jam setengah 10 malem juga. Polisi yang ada di situ dengan brengseknya nggak ngelakuin apa-apa. They were just like
'Wah hebat ya kalian mau nolongin si nenek'.
Hahaha.
DAN TAU GAK SIH INI TAI BANGET. Bener-bener truly definition of tai.
Semua polisi di situ nggak ngebantu sama sekali. Gini ya, kita nganterin si nenek ke polsek tujuannya kan supaya bisa ditindaklanjutin sama pihak polisi. Tapi ini mereka malah nggak ngelakuin apa-apa, dong. Mereka malah NYURUH kita (which is para cewek-cewek SMA yang masih berkewajiban buat pulang ke rumah) buat nganterin si nenek ke polsek Batujajar. The hell.. pemikirannya gimana. First thing first, kita jelas-jelas dateng ke polsek buat minta bantuan mereka supaya si nenek ditindaklanjutin. Kedua, mereka malah nyuruh cewek-cewek 16-17 tahun buat nganter si nenek jam 10 malem ke Batujajar (yang so far away banget) sementara mereka malah asik-asikan ngopi. Ketiga, salah satu komandan di situ (i dunno exactly sih, tapi polisi lain yang ada di situ manggil dia 'Dan' dengan attitude segan, jadi gue asumsikan dia komandan di situ) malah nyuruh kita ngebawa pulang si nenek ke rumah salah satu dari kita. Ya ga kebayang sih gue bawa pulang si nenek ke rumah trus bilang ke ortu 'Mah.. ini ada nenek nemu di jalan'.... kayak mungut kucing aja. Keempat, kalo emang segampang itu pun, ya kenapa nggak anda aja yang ngebawa si nenek pulang ke rumah? Dengan brengseknya si komandan itu langsung tancap gas pulang ke rumah. Bahkan dia nggak ngasih arahan ke anak buahnya (yang mungkin sama-sama bingung juga kayak kita) harus ngelakuin apa. Intinya, kita nganterin si nenek kesini aja nggak ada bantuannya samsek, nganterin si neneknya ke polsek Batujajar pun mungkin nggak akan jauh beda. Mereka mungkin malah lebih bingung kalo kita bawa kesana.
Hampir 1 jam kita di sana dan nggak dapet bantuan apa-apa, sementara waktu udah makin malem. Si nenek nangis di bahunya Mon, nggak mau ditinggal sendiri di sana. Tiap kita bergerak, si nenek ngikutin kita. Kita yang udah harus pulang akhirnya satu persatu masuk ke mobil sampe akhirnya tinggal Mon sendirian nemenin si nenek. Sampe mobil udah siap pergi di gerbang, Mon ngelepas nenek dan masuk ke mobil.
Trus tau nggak?
Neneknya lari sebisa mungkin ngejar mobil kita
sambil
nangis.
And the polices out there weren't even trying to chase her. Dibiarin gitu aja, sampai mungkin akhirnya si nenek tersesat lagi di jalan.
Di situ, seisi mobil langsung sunyi, sampe akhirnya satu persatu dari kita nangis. Rasanya tuh... miris banget. Sedih campur marah. Sedih, untuk tau nasib si nenek yang dibuang anaknya-kesesat-bingung-nggak dapat bantuan pula. Marah, sama polisi barusan yang nggak ngebantu sama sekali. Langsung keinget mama di rumah.. kalo udah tua dan nggak inget jalan pulang, akankah ditreat dengan cara yang sama?
Maafin kita nenek...
Trus Mayang ngajak kita ke istiqomah, buat shalat isya sekaligus doain si nenek. Trus taunya nyampe di sana kita nangis lagi. Huhu. Yaudah aja karena udah makin malem, kita pulang. Kita ke Dago dulu buat nganter Anas balik. Anas turun, Hani gantian nyupir trus kita caw ke arah Setiabudi nganter Mayang. Hani waktu itu masih down banget gara-gara tragedi nenek, nggak fokus ngeliat kalo lampunya udah merah dan nyenggol motor di sebelah kanan. Spontan aja dong, kita langsung buka kaca dan ngeliat keadaan mereka. Motor yang udah jatoh waktu itu ternyata ngangkut satu keluarga kecil; bapak, ibu sama anaknya yang masih kecil. Hani nanyain keadaan mereka trus bilang kita mau minggir dulu soalnya posisi kita ada di tengah jalan.
Pas Hani mau minggirin mobilnya ke tepi, di saat yang sama ada orang yang ngegebrak mobil sambil teriak provokatif
"KELUAR WOY!"
Sumpah, serem banget. Semua langsung deg-degan dan nyoba buat tenang.
Kita diminta dateng ke pos polisi yang kebetulan ada di sebrang tempat kita parkir. Di situ gue bingung, mana si korbannya... soalnya di tempat jatuh tadi dan di pos polisi udah nggak ada. Si polisi minta kelengkapan suratnya Hani, dan di saat yang sama gue nanya apa yang harus dilakuin saat itu.
"Jadi ini harus gimana pak langkahnya?"
"Minta orangtuanya ke sini dulu aja ya, Dek. Trus tunggu di sini sampai orangtuanya dateng."
"Iya udah dihubungin pak. Trus korbannya gimana?"
"Diselesaikan dengan cara damai, Dek."
"Iya, langkahnya harus gimana Pak?
"Diselesaikan dengan cara damai."
"Langkah saya sekarang harus ngapain pak?"
"Menyelesaikan masalahnya dengan cara damai, Dek."
Holy fuck you said that thrice already. Ya gue tau nyelesain masalahnya dengan cara damai bukan pake tawuran tapi sistematikanya itu loh gimanaaa!?!?!?!?
Akhirnya based on my dad instruction, gue datengin keluarga korban yang ternyata ada di seberang jalan satunya trus nanyain keadaan mereka. I saw no police there. Kesel gue, menurut gue di keadaan seperti itu prioritasnya adalah nyelametin korban, bukan ngurusin surat-surat kita dulu (karena bisa menyusul kan? sementara kondisi korban mungkin aja udah urgent, tapi polisi gaada sama sekali yang ngecek). Duh untungnya keluarga korban maklumin banget dan paham kalo itu musibah. Nggak ada sikap yang nggak mengenakkan sama sekali.
Yang provokatif ngegedor-gedor mobil (yang ternyata sampe penyok gedornya) sambil teriak tuh ternyata mang-mang gerobak yang nimbrung,
"Tadi saya sampe lari lompat dari gerobak saya."
Kesel gak sih.
Akhirnya keluarga korban kita bawa ke Borromeus buat ditanganin karena si bapaknya got some injured on legs. Kita semua nungguin sampe keluarga Hani dateng dan jam 2an gue pulang dijemput Mba Yaya sama Kak Tasdik...
What a day full of tragedy yah.
P.S: later we know that there's no serious injury on the victims. Alhamdulillah.
2. The Ending of my Apprentice Task
Kayaknya gue juga belum cerita tentang magang gue di Gogirl! as their apprentice. Jadi, anak-anak pemenang Cerita Kita Casting Call ditawarin sama Gogirl! buat jadi apprentice mereka, semacam contributor-nya website dan instagram mereka. Jelas gue mau dong pas ditawarin. Bisa buat nambah pengalaman, menuhin CV plus nambah uang saku gue juga. Gue ngambil bagian foodie dan ditempatin di bagian drinks. Hihihi syenaaang so basically tugas gue cuma liputan-makan-nulis aja kan. Untungnya gue juga kebetulan suka topiknya. Jadi enjoy banget tiap minggu keluar buat liputan pulang sekolah, makan, foto-foto, nulis dan begitu seterusnya.
Kalo bukan karena tugas apprentice juga, mungkin kamera gue nggak bakal dipake lagi. Sebenernya gue udah saving dari lama biar bisa beli Fujifilm X-E2 biar makenya praktis banget gak kayak SLR D3000 jadul gue (yang lack of feature juga sebenernya, nggak bisa foto dari screen dan nggak bisa video huhu syedi). Tapi karena belom cukup, akhirnya gue pake buat beli lensa fixed Nikkor 35mm f1.8 yang gue pikir cukup menunjang tugas apprentice gue ntar. Biar foto-foto hasil reviewnya bagus. Daaan so happy banget sih, glad that i bought it karena hasilnya pun lumayan banget (tapi masi pengen X-E2 juga huhu).
Masa apprentice gue berlangsung selama 3 bulan kontrak. And to be honest, those 3 past months were full of ups and downs. Masa apprentice bikin gue belajar cara me-manage waktu yang baik, mulai dari misahin waktu nugas, liputan (yang kadang bisa sampe ke beberapa tempat dalam seminggu), sekolah, dan lain lain. Temen-temen ngeliat masa magang gue ini adalah hal yang super asik karena gue kerja untuk makan, foto dan dibayar. Hufff... ternyata tidak semuanya menyenangkan, people. Hahaha.
Gue jadi ingat beberapa minggu lalu, gue berencana dan udah buat janji dengan human resources sebuah kafe di Bandung untuk ngeliput kafe mereka. I was nervous since it was my first reporting. Tau ketakutan gue apa? Being underestimated. Tapi gue terus meyakinkan diri gue dengan bilang 'It's okay. It's going to be okay. Professionals don't discriminate work by age. Mereka pasti objektif, kok'.
Waktu gue nyampe di sana, orang yang menyambut kedatangan gue tampak surprised dengan air muka bingung sambil bilang,
"Loh, masih muda banget ya ternyata."
But she was nice. The interview went not as well as i hope, karena gue ngerasa kaku banget di situ. Awkward, nervous, that's what i felt. Gue pun minta izin buat ikut fotoin proses pembuatan minuman di balik bar. Here comes the bad part.
Gue yang lagi ada di pantry lagi ngefotoin si barista yang lagi demo bikin minuman. Ternyata, di bar itu kebetulan lagi ada owner kafenya, tepat di seberang gue sama si barista. Gue nyadar lagi diperhatiin, tapi gue saat itu focus on taking pictures. Sampe akhirnya si owner ngeluarin smirk-nya, trus evil laugh bilang
'Serius? Haha, masih SD kali yang ada!'
dan si barista pun ikut ngekeh ketawa trus ngelirik gue.
I was beyond mad. Ketakutan gue bener-bener jadi kenyataan. Di situ gue langsung minder parah. Langsung insecure banget dan kesel. Pengen ngembaliin mood juga nggak bisa jadi baik lagi. Selesai reporting dan foto-foto, gue nyuruh kakak gue ngabisin treats yang mereka kasih karena gue nggak punya appetite buat konsumsi itu semua. Kata-kata si owner cafe yang tadi terus kebayang-bayang di kepala gue.
My sister knew there was something wrong. So we hurried up our work and said goodbye early. Sebelumnya, kita ditawarin buat ikut cupping tapi gue menolak dengan alasan ada liputan lagi setelahnya. I just can't stand longer there. Jadilah, begitu nyampe mobil, gue langsung nangis dan cerita tentang perilaku si owner cafe yang sangat nggak menghargai gue dan malah insult gue. I swore that i'll never go back to his cafe anymore. Gue jadi insecure parah buat liputan selanjutnya.
It was a bad moment, tapi setidaknya ngebuat gue belajar. Di liputan selanjutnya, gue lebih dandan dan make baju yang lebih dewasa supaya meminimalisir kemungkinan bakal di-underestimate karena physical appearance gue yang mungkin remaja banget. Nah di liputan selanjutnya ini, justru sangatlah sebaliknya. Gue diperlakukan dengan sangat sangat baik sama manajernya, even dia tahu gue masih anak sekolahan. Dia melihat gue sebagai pekerja yang melakukan tugasnya, bukan sebagai anak remaja tanggung. He even said he was proud of me and what i'm doing in my life for such a young age. Beliau orang yang sangat respectful dan objektif. Kontradiksi banget sama liputan sebelumnya. Maka dari situ gue bisa menilai owner cafe yang nge-insult gue kemarin sangatlah nggak profesional, and i realized that i shouldn't have to be insecure because of a person like him. So, the second reporting process went really well and fun, they even treated me with lots of foods.
Someone said to me, 'Udah, kalo gitu mah review cafe A didikitin aja dan dikritik lebih pedes, kalo cafe B dibanyakin!"
I was thinking of it too, but it wasn't happened. If i did so, that made no difference between me and the jerk cafe owner that once insulted me, which is being unprofessional and subjective.
Biarkanlah masalah itu nyangkut di urusan pribadi aja, nggak usah memengaruhi penulisan review gue terhadap cafe tersebut.
And yeah, my apprentice task is over now. Sebetulnya gue pengen banget ngeperpanjang masa apprentice, unfortunately ngeliat waktu belajar dan les gue di kelas 3 yang gila-gilaan bikin gue harus nolak tawaran tersebut. But really, it was such a HUGE lesson. Mungkin pelajaran yang gue dapetin selama 3 bulan sebagai 'pekerja' hanyalah sebagian kecil dari realita dunia kerja. But still, i embraced it and i'm so glad that i got the opportunity to experience them in such young age.
Bagi yang mau liat artikel-artikel foodie gue, cek di websitenya Gogilrl! ya :)
3. Worst Mudik Ever!
Salah satu momen di bulan Juli yang nggak bisa gue lupain adalah waktu mudik. Seriously, it was the worst mudik ever! Biasanya, perjalanan mudik gue dari Bandung ke Slawi nggak lebih dari 12 jam. Tapi ternyata tahun ini rekor banget, nyampe 22 jam. Sebenernya gue fine fine aja mesti berlama-lama di perjalanan, tapi ngedenger stok bensin di tiap pom bensin Jawa Tengah pada habis (sampe bikin mobil-mobil kehabisan dan ngantri bensin. Btw waktu itu saking langkanya bensin dijual eceran sama calo sampe seharga Rp50.000 perliter), keluarga gue parno bakal kehabisan bensin di tengah jalan. Akhirnya kita cuma nyalain mesin mobil pas ada pergerakan doang (itu pun pergerakannya mini banget cuma beberapa meter).
Gara-gara itu, kita terpaksa juga harus nahan nggak pake AC di sepanjang siang bolongnya Brebes yang panasnya udah kayak oven. I wet my shirt and even cried for it, soalnya gak nyampe nyampe huhuhuhu dan pergerakannya super dikit di saat jaraknya masih jauh gila. Kita literallty kejebak di tengah ladang jagung, siang bolong, frustasi. Sumpah it was the most frustrating moment i've ever had. Gue nggak yakin bakal ikut mudik tahun depan.
4. School is starting
Kali ini gue lebih excited pergi ke sekolah dibanding sebelum-sebelumnya. I'm trying to make the best out of it, apalagi masa belajar gue di sekolah cuma tinggal 8 bulan. Senior year, baby!
Tau nggak... march turned out hid something good! :')
dan ini saking excitednya bingung mo nulis darimana loh...
Oke, Cha, take a deep breath.
Semua ini berawal dari waktu aku lagi di Tako Lada bareng Rasyid, buat makan sekaligus... ehm, numpang wi-fian (hehe!). Kita nangkring di sana berjam-jam sambil laptopan, mulai dari mantengin youtube nontonin video-video lucu sampe pada akhirnya berakhir di website Cerita Kita. Naaah kebetulan nih, udah beberapa bulan ini aku emang doyan mantengin websitenya majalah Gogirl! sama Cerita Kita. Simply karena isinya emang berguna banget mulai dari beauty tips sampe relationship, plus banyak artikel-artikel yang appeared di majalah edisi lama trus dipost lagi.. hehe! Pas buka websitenya Cerita Kita itu lah aku ngeliat banner Cerita Kita Casting Call batch 3. Yap, ini udah yang ketiga kalinya Gogirl x Clean & Clear ngadain casting call Cerita Kita buat ngundang cewek-cewek jadi kontributor di websitenya. Sempet tertarik sih buat ikutan batch 1 sama ke-2nya, cuma event itu dua kali berturut-turut diadain di Jakarta.. eh begitu ada tulisan 'Jakarta, Bandung & Surabaya', i was like... I NEED TO JOIN THIS.
Aku nggak langsung register buat ikutan seleksinya. Udah pesimis duluan abisnya. Udah tau nggak mungkin bakal menang, secara pasti banyak banget jaman sekarang yang fotonya bagus-bagus. Setelah didorong beberapa kali sama Rasyid, akhirnya aku register tanpa ada ekspektasi apapun. Pas register waktu itu kita disuruh milih salah satu pilihan passion yang bakal kita ikutin workshopnya. Ada fashion stylist, beauty enthusiast, writing, sama instagram specialist. Di situ
"Udah Cha, writing aja, kan maneh suka nulis di blog dan tulisan maneh bagus."
"Tapi blog aku isinya ga penting semua Syid. Masa mo nge-attach tulisan yang isinya ngeluh semua?"
"Ya udah instagram specialist."
"Tapi..."
"Udahlah writing aja."
"Ih tapi kan..."
kek gitu aja molo sampe lumutan.
Then i have another think coming. Kalo dipikir-pikir selama ini aku kalo nulis sesuatu pasti ada 'pause moment'-nya. Entah karena keabisan topik, bosen di tengah-tengah, ato kebanyakan mikir. Sementara kalo foto, aku cenderung spontanous dan nggak bisa berhenti buat ngejepret. Buat satu objek yang aku anggep menarik aja bisa sampe belasan kali motonya sampe dapet cahaya ato angle yang pas. Lagian aku nggak punya tulisan yang menurut aku cukup bagus buat di-attach pas registrasi, sementara foto ada lumayan banyak. Yaudah.. jadi.. ya gitu.. akhirnya aku milih instagram specialist.
Beberapa minggu kemudian aku liat Kak Nina Moran ngasih tau di instagram kalo nama 100 finalis Bandung udah keluar di website. Sumpah degdegan banget ngecek nama aku ada di list ato engga. Lumayan lama aku ngescroll list nama, udah sampe 50-an tapi nama aku belom ada juga. Ya udah lah pasrah... :')
Dan ternyata nama aku ada di urutan ke-81 dong. Seneng? Banget! Lebih ke lega juga sih lebih tepatnya. Dan ternyata disitu aku baru tau kalo Devita, Yedida, Icus sama Chiesa lolos ke 100 besar juga. Aku langsung buru-buru ngechat Devita sama Yedida, nanyain nanti sabtu (acara casting call-nya) mereka dateng ke Beehive ato engga. Devita sama Yedida ternyata nggak bisa. Aku mau ngeline Chiesa juga ternyata nggak punya contactnya (HAHA bodoh). Akhirnya di sana bareng Icus.
Aku dapet telfon dari Kak Michaela buat konfirmasi kehadiran sabtu nanti di Beehive. Asik! Hahaha kebetulan aku belom pernah ke Beehive (norak!) dan ide kesana bareng temen selama ini cuma H2C alias hayu hayu cicing doang. Aku juga langsung cari tau kegiatan casting call batch sebelumnya tuh ngapain aja. Rundown acaranya makin jelas begitu dapet detailnya via e-mail dari Kak Michaela.
Hari Sabtu, 19 Maret kemaren akhirnya aku cus ke Beehive Cafe & Eatery dianterin Mama sama Papa, sekaligus mereka berdua mau ke undangan. Rencana sih berangkat jam 10 pas buat ngehindarin macetnya Bandung pas weekend, tapi ternyata ngaret gara-gara nyonya besar kelimpungan cari baju kondangan yang udah pada gak muat.. haha. Akhirnya kita berangkat jam setengah 11. Papa super ngebut dan nyelip sana-sini nyetir mobil. Nggak enak kalo ngaret, abisnya Kak Michaela bilang kalo bisa kita dateng sebelum jam setengah 12, tapi ini jam 11.15 aja baru nyampe di Pasteur.
Aku nyampe Beehive jam 12.40. Begitu masuk, kita harus nukerin produk Clean & Clear yang kita punya buat alat registrasi, dapet nametag, trus dituntun buat foto di photobooth. Disitu aku mikir mati gaya banget foto sendiri... eh ternyata dapet temen buat foto hehe hamdalah.
![]() |
| Bareng Kak Rizka di photobooth! |
Aku kenalan sama Kak Rizka disitu dan akhirnya kita duduk bareng. Kak Rizka mungil banget, aku sempet ngira dia sepantaran sama aku padahal ternyata udah kuliah di FTSL ITB! Haha sotilnya muncul kan... Para finalis diminta buat makan siang dulu. The food was great. And anyway, ambience Beehive ini enak banget! Good food, good ambience meet our passion? Definetely couldn't ask for better! Gogirl! x Clean & Clear menurut aku pengertian banget sih, nyusun part makan siang sebelum coaching session & workshopnya dimulai. Abisnya ternyata kegiatan selanjutnya ini bikin capek banget.
Beres makan, coaching session dimulai. Sesi pertama dibuka sama Kak Nina Moran. Kak Nina ngejelasin gimana cara nulis yang bener dan trik-trik nulis yang bagus tuh kayak gimana. Nulis emang bukan hal yang gampang. Buat bikin tulisan, kita harus bener-bener fact-finding dulu. Nggak boleh asal nulis. Kita juga harus tau target market tulisan kita tuh siapa, supaya gaya tulisan kita bisa menyesuaikan.
Sesi kedua dilanjut sama Kak Githa Moran, fashion stylist Gogirl!. Waktu itu aku pernah baca buku No One to Someone, dan ternyata Kak Githa tuh udah megang rubrik fashionnya Gogirl! dari awal banget, waktu usianya masih 17! Kak Githa juga fashionable banget dari dandanannya. Di coaching sessionnya, Kak Githa ngejelasin tentang perbedaan antara fashion dan style, dan tentang gimana cara kita tau style kita itu sebenarnya kayak gimana.
Selesai Kak Githa nyampein materi, Kak Agnes Oryza ngelanjutin coaching sessionnya. Kak Agnes Oryza cantik banget, mulus banget kulitnya, lucu banget huhuhu sumpah dan rambut kriwilnya ituloh parah lucu banget!!! Kak Agnes ngenalin kita produk-produk make-up yang cocok buat remaja dan ngasih tips and trick make-up. Sayang fotonya ngga jelas gegara ketutup kepala-kepala orang.. haha.
Coaching session terakhir disampein sama Kak Pramudina, influencer instagram dari Bandung. Sebelumnya aku emang udah nge-follow Kak Dina (@prafr) dan instagram keduanya yang keren parah (@caelestiale). Kalo aku liat, feedsnya Kak Dina emang rapih banget, hampir semua post-nya tonenya seragam, trus dominan warna putih. Artsy banget pokoknya. Di coaching sessionnya Kak Dina ngejelasin gimana cara dapetin foto yang bagus, how to gain & maintain your followers dan lain-lain. Kak Dina cantik dan mungil bangeeet hehe.
Selesai coaching session, para finalis dibagi-bagi perdivisi passionnya buat nyelesain tugas yang dikasih. Aku yang ikut workshop instagram specialist bareng para finalis lainnya dikasih tugas buat capture produk Clean & Clear dengan manfaatin properti yang udah disediain dalam waktu 20 menit, untuk kemudian diupload ke instagram & bakal dinilai sama mentor kita (Kak Dina). I must say... waktu 20 menit itu bener-bener full of pressure banget. Para finalis langsung rebutan properti mulai dari kalung-kalungan, produk Clean & Clear, buah-buahan kayak apel, lemon, blueberry, figura Gogirl! sampe backdrop putih buat foto ala-ala still-life gitu. Sumpah, r e b u t a n. Dikit-dikit 'eh pinjem ini dong' ato 'boleh pinjem itu gak?'. Bahkan aku merhatiin ada beberapa finalis yang pelit susah diajak gantian properti... hahaha. Aku nggak tertarik buat gondok rebutan properti sama yang laen, jadi aku manfaatin properti yang aku punya di depan mata. Aku juga nggak sempet buat nyobain foto di backdrop putih yang udah disediain. Malah bisa dibilang aku cuma dapet properti dikit banget. Blueberrynya aja cuma dapet seuprit lol tapi gapapalah. Quality over quantity kan yang penting? (buset pede bener yaa ni anak satu). Aku juga sempet nggak pede karena ada beberapa dari mereka yang motretnya pake kamera, sementara aku cuma ngandelin hp. Aku mikirnya bakal ribet kalo motret pake kamera, belum mindahin filenya ke hp yang butuh waktu lama dan sebagainya. Akhirnya aku ngetegarin hati aku buat terus positive thinking (padahal mah fotoinnya juga sampe gemeteran). Masih asik foto-foto tiba-tiba ada kakak panitia dateng ke arah kita dan bilang "semuanya upload sekarang ya! Cepetan! Waktunya d u a m e n i t lagi!".
Crap.
Saat itu juga aku langsung duduk nenangin diri, dan mulai nyortir foto-foto yang kira-kira bagus buat diupload. Segeber mungkin aku edit, kasih filter, tulis caption, dan buru-buru upload fotonya ke instagram. aku langsung upload 3 foto sekaligus! Which is foto ke-lima yang aku upload hari itu... huhuhu maaf ya teman-teman aku nyampah! Padahal Kak Dina bilang kita nggak boleh over-upload ato nyampah post di ig biar nggak bikin followers jengah. Aku edit captionnya berkali-kali sampe aku ngerasa bahasanya catchy buat dibaca. Itupun sambil degdegan keringetan... panic attack diburu waktu!
Ini dia 3 foto yang aku upload ke instagram:
Workshop ditutup dan acara dilanjutin sama coffee break. I must say that Beehive's mushroom ball tuh enak parah. Sayang waktu itu rada gerah udaranya. Beres coffee break, aku duduk di sebelah Icus & nyaksiin sharing session tentang kulit & produk Clean & Clear. Begitu sesi pertanyaan dibuka, aku langsung ngacungin tangan, di saat belom ada orang yang berniat nanya. Kenapa coba? Karena... di casting call batch sebelumnya, orang yang ngajuin pertanyaan bakal dapet merchandise dari Gogirl. HAHAHA dasar otak gratisan.... maapin. Aku waktu itu nanya tentang makanan yang merangsang timbulnya jerawat di kulit. Ternyata makanan apapun nggak ada pengaruhnya sama jerawat yang timbul di kulit kita, asalkan kita tekun ngerawat dan ngebersihin kulit kita. Jadi, isu kalo kebanyakan makan gorengan atau coklat bikin jerawatan itu nggak bener.
Asik beneran dapet merchandise lol! Aku dapet merchandise tas dari Gogirl!. Dan bener aja, the moment they gave it to me, mendadak banyak banget orang yang ngacungin tangan mau ngajuin pertanyaan. Ternyata yang otak gratisan bukan aku doang lol.
![]() |
| sharing session. |
Sesi tanya jawab berakhir ketika
Pemenang inspiring photo maju ke depan dan ngedapetin voucher MAP senilai Rp150.000 yang nantinya bisa dibelanjain di beberapa storenya kayak Zara, Mango, Pull & Bear, Sport Station, dan masih banyak lagi. Lumayan banget kan? Yeay!
Acaranya berlanjut ke pengumuman finalis pemenang Cerita Kita tiap divisi. Ada 3 pemenang dalam satu divisi, which means pemenang totalnya akan ada 12 orang. Di situ aku baru tau kalo pemenangnya nanti nggak cuma jadi kontributor website Cerita Kita dan dapet kesempatan magang di majalah Gogirl!, tapi juga... iPad mini! Wow.
Yang diumumin pertama kali ternyata pemenang dari divisi passion instagram specialist. Oh God. MC langsung nyebutin ketiga nama pemenang. Nama yang pertama kali disebut adalah namanya Kak Elista Yaumi. Kak Elista langsung maju ke depan. Duh pasti bahagia banget...
Nama yang kedua disebut waktu itu nama Kak Niken Ritami. Kak Niken maju nyusul Kak Elista di depan. Hfff... yaa gapapaaa kalo ga menang, Cha. Lumayan juga kok, udah dapet tas, voucher MAP, dimentorin sama Kak Dina, ketemu Kak Nina, Kak Githa, Kak Agnes Oryza, dapet makan jugaa.. udah dapet pengalaman kok.
Trus tiba-tiba nama aku disebut.
Yep, nama aku. Lengkap ketiga suku katanya.
Aku langsung nganga supergede trus ngeliat ke arah Icus, dan kebetulan banget Icus juga langsung ngeliat ke arah aku. I was like.. "ANJIR CUS ANJIR" and she was too, be like "ANJIR CHA ANJIR". I walked upfront awkwardly. I know, tampang aku waktu itu pasti udah ga banget, udah ga kekontrol antara pengen nyengir bahagia & pengen jalan ke depan in a calm, cool way. Haha sebel! Waktu aku jalan, Kak Ucita Pohan selaku MC-nya pun sampe bilang "Loh, kamu lagi?" haha gegara menang 3 kali beturut-turut!
Then there was i, in front of the people, standing as one of the winners. Pengumuman dilanjutin sampe finalis yang ke-12, dilanjut sama acara serah terima piagam sama iPad mini (super yeay!). Foto-foto bareng 12 finalis lainnya beserta mentor, dan shooting video bentar sebelum pulang. Setelahnya, para peserta event dapet goodie bag dari Clean & Clear! Hihu senanggg karena kebetulan aku emang make produk Clean & Clear di rumah. Sebelum pulang, aku, Kak Elista & Kak Niken foto-foto dulu bareng Kak Pramudina!
![]() |
| Kak Elista,, Kak Pramudina, aku & Kak Niken. Yeay! |
![]() |
| Kak Dina & si gendut aku. Hehe! |
![]() |
| the prizes! |
![]() |
| sekali lagi deh :p |
Jujur aja, masih nggak nyangka banget aku bisa menang! Secara aku orangnya pesimis banget & nggak pedean. Lewat event Cerita Kita, aku belajar banyak hal dan dapet pelajaran berharga, kalo ternyata; all we have to do is try. Bukan masalah di 'bakal menang' atau enggaknya, tapi 'coba dulu'-nya. Kalo waktu itu Rasyid nggak ngedorong aku buat register seleksinya, mungkin aku nggak bakalan dapet semua pengalaman berharga itu dan yang paling penting... gak bakal menang!
Berkat event Cerita Kita juga, aku jadi 'mantap' banget ngeliat photography dan instagram sebagai passion yang bisa aku seriusin. Kemenangan ini tuh jadi 'titik' dimana aku bener-bener yakin buat nyebut passion aku dimana, karena aku selama ini orangnya nggak bisa ngakuin kelebihan aku sebelum aku 'ngehasilin' sesuatu dari itu. So happy to be one step closer to my dream! Bersyukur juga bisa kepilih jadi 12 besar diantara 100 orang yang juga jago & passionate di bidangnya!
Jadi, aku punya beberapa message nih buat temen-temen (atau mungkin calon finalis Cerita Kita batch 4 dan seterusnya!) semua:
- It's not about winning. It's about trying. Kita harus jadi orang yang oportunis dan cerdas nyari celah menuju mimpi kita. Kita nggak boleh pesimis duluan buat ikutan sesuatu. Nggak boleh punya mental kalah duluan. Nggak usah overthinking nantinya bakal menang atau engga. Yang penting tuh: c o b a i n d u l u !
- Observate & apply what we learn. Rajin-rajin deh buat belajar & cari tahu banyak hal seputar passion kita. Jangan ngerasa udah 'tau duluan'. Perhatiin bener-bener dimana celah kesuksesan mereka yang udah sukses di bidang itu.
- Positive thinking. Klise banget, tapi nyatanya emang supersusah dipraktekin.
- Cari informasi sebanyak mungkin. Dengan googling dikit, jadi tau kan tips & trick
buat dapet hadiahnyelesain hal-hal kecil yang ternyata krusial. - Have faith. Believe in yourself. Don't ever give up.
Cheers!
Ocha.
















