// In Between //
Sabtu, 17 September 2016
Life is strange these days.
Nggak cuma akhir akhir ini saya makin ngerasa hidup di tengah kontradiksi, tapi juga hidup di antara dua lingkar sosial yang saling tegak lurus.

Lingkungan yang dulu saya masuki begitu konservatif dan idealis. Lingkungan yang membentuk anak-anak di dalamnya untuk 'nggak macam-macam', taat aturan, lurus, namun punya tendensi untuk menghakimi orang lain. Sulit untuk menerima hal baru dan menganggap beberapa hal yang sebenarnya biasa adalah tabu. But the good side is actually setiap orang dicekoki norma dan values yang baik. Solidaritas juga tertanam erat. Setiap orang pasti kenal dengan teman seangkatannya. Saya selalu kangen sama teman-teman di sini. Banyak momen kebersamaan yang saya punya bareng mereka.

Keluar dari lingkungan lama, saya masuk ke 'dunia' baru yang exciting. Meski jaraknya hanya terpaut sepuluh kilometer, lingkungan yang saya masuki begitu berbeda dan berwarna. Setiap orang bebas mengekspresikan keinginan, kepribadian dan keputusannya tanpa khawatir akan pandangan orang lain. Dan actually, orang-orang pun terlalu sibuk untuk merecoki kehidupan orang lain. Di lingkungan baru ini, saya ngerasa lebih 'alive' dan bebas. But there's always two sides in everything. Lingkungan liberalis ini kadang sedikit ekstrem --bagi saya--, dan begitu individualis. Menjalani kehidupan di sini kadang membuat saya merasa rindu kompak dan hangatnya teman-teman dulu.

Di antara.

Masuk ke lingkungan yang baru sedikit membuat saya kelimpungan pada awalnya. Butuh adaptasi yang lama untuk semua ini, namun lama kelamaan mengalir begitu saja. Meskipun tidak mengubah saya menjadi 100% liberalis ala orang-orang di lingkungan ini, at least saya comfortable dengan lajunya. Namun, bagian anehnya adalah ketika saya kembali bersosialisasi dengan teman-teman lama. 3 tahun terpisah dan tercekoki paham dan dunia baru membuat saya dan mereka seakan punya jarak dan prinsip yang berbeda. Dulu saya yang nggak punya pembanding antara lingkungan A dan B nganggep kalo lingkungan A (dulu) adalah lingkungan yang paling baik. It turned out that now i've changed my mind. Saya malah nggak comfortable in certain way ketika kembali bersosialisasi dengan mereka. Kadang ngerasa jengah dan terkekang oleh value mereka yang beda dengan saya yang sekarang. That moment i realized that i already changed, and i'll probably never again be quite the person i was. Di momen itu juga saya paham bahwa people really do change, dan kita juga nggak bisa menaruh ekspektasi pada orang lain untuk selalu jadi orang yang sama. Saya ngerasa saat ini belum sepenuhnya menjiwai hidup dengan gaya hidup di lingkungan baru, tapi udah nggak nyambung dan seprinsip dengan dimensi lingkungan yang lama. Akankah saya jadi berubah jadi pribadi yang 100% mengikuti arus di lingkungan baru? Nggak tahu. Mungkin aja. Nggak menutup kemungkinan juga suatu saat saya akan too comfort dengan lingkungan saat ini, menganggap lingkungan ini paling baik, lalu kemudian berubah menjadi pribadi yang lain lagi karena memasuki dunia yang baru. Oleh karena itu, di posisi ini lah saya baru ngerti maksud sekaligus bisa relate banget sama quotesnya Oliver Wendell Holmes Jr., 

"A mind that is stretched by a new experience can never go back to its old dimension."

Because change is really something we cannot avoid, isn't it?

Label: ,

@ 11:12 PM
Living in contradiction
Jumat, 09 September 2016
Ada sesuatu yang lucu pada kepribadian saya. Idk if this related to the INTJ thingy, tapi saya merasa menjalani hidup dengan penuh kontradiksi. Kadangkala keinginan dan basic personality saya jalan berseberangan. Saya nggak suka spotlight, but don't want to be ordinary. Saya suka banget sendirian, tapi nggak ingin kesepian. That's why kalo dipikir-pikir saya sering nangkring di coffee shop yang agak ramai oleh orang-orang asing. Saya nggak peduli apa yang orang-orang pikirkan tentang saya, tapi berusaha untuk prove them wrong. Saya nggak suka jadi orang yang dateng pertama, tapi in the end always being early. Saya listener di antara orang banyak, tapi vocal di antara inner circle saya. I'm a confident yet i could be extremely shy. Basically a conservative, yet i want to be a liberalist. I'm strongly opinionated yet i could be very private. I don't really fit in everywhere, yet i can sort of fit in just about everywhere.

Anyone feels like living in a paradox like me?


Label:

@ 4:04 PM
#Augustjam
Sabtu, 06 Agustus 2016

Label: ,

@ 7:48 PM
JULY
Hi everyone! It's august already. Sebelumnya, apa kabaaar readers saya semuanyah? (iya yang barusan jijik banget kok iya) Anyway, gue (HAHA labil ya kadang aku kadang saya kadang gue kadang aing) senenggg banget setelah sekian lama nggak buka blog dan nggak ngepost, ternyata masih ada yang berbaik hati mau mampir dan baca postan aku bahkan sampai yang jadul jadul (liat dari statistic, hehe!). Feels so good, tau kalo ada orang yang mau baca tulisan gue.

So, basically post ini bakal kayak semacam 'penebus dosa' karena gue nggak ngepost samsek di bulan Juli. I don't want to forget every single thing that happened in my life pas dibaca kalo udah gede nanti. I want this blog to be my legacy. Supaya anak-anak gue nanti (iya mikirnya kejauhan tau kok tau) kalo nanya 'Mama pas SMA ngapain aja sih kerjaannya? Masa SMAnya rame ngga? Trus gimana kehidupan jaman mama dulu?' (geer banget btw bakal ditanya kek gini yak), gue bisa ceritain itu semua tanpa lupa detail-detail kecilnya. Uuuu so kyoot.

Hm, gue point aja ya biar ceritanya lebih rapi.

1. 1 Juli: Tragedi Nenek & Tabrakan

Duh ini dijamin banget sih momen SMA yang nggak bisa dilupain sampe gede. Tanggal 1 Juli tuh memorable banget. Banget. Jadi, tanggal 1 Juli gue, Hani, Jilan, Manda, Indri, Anas, Mayang sama Ami rencana mau nge-surprise-in belated birthday-nya Monica sama Cindy. Kita janjian di Eat Boss sekalian buka puasa bareng, sebelumnya ngedekor-dekor tempatnya dikit pake balon plus perintilannya. Tapiii sayangnya fail gara-gara mereka keburu dateng sebelum lilinnya siap... heu tae. So yaudasiii akhirnya kita masang lilin bareng-bareng di pizza satumeteryangternyatagaksatumeter. Beres nyanyi happy birthday, make a wish, foto foto lalala akhirnya kita makaaan sampe jam set8an trus ternyata makanan kita pada ngga abis, karena pesennya kebanyakan. Dari situ kita juga udah gabut dan pengen nyari tempat buat ngopi, akhirnya kita caw ke dua buat ngasih makanan yang masih banyak kesisa buat Pa Dian dkk. Di mobil Hani kita bersarden ria bertujuh (Cindy misah, Ami sama Indri ngga dateng) caw ke dua dan ternyata tutup ngga ada orang. Bingung kan kita mau kemana... akhirnya muter-muter aja ngga ada tujuan sampe mo nyari tempat yang enak (sekalian mau bagiin makanan juga).

NAH. Akhirnya, di Gandapura kita ngeliat nenek-nenek jalan sendirian di pinggir jalan. Mon sama Hani turun buat ngasih makanan ke si nenek, yang lainnya nunggu di mobil. Eh trus tiba-tiba mereka balik lagi panik,

"Jil, ini gimana neneknya kasian nggak inget jalan pulang!"

Wadu.
Yaudah aja kita semua sisanya turun dari mobil trus ngajak ngobrol si nenek, sambil minggirin dia dari jalan yang kena ujan. Sumpah, ini kasian banget, ngga boong. Si nenek nggak inget apa-apa dan lupa jalan pulang. Dia bilang tadi sore abis dibawa sama anaknya trus diturunin di daerah situ. Anaknya nyuruh dia jangan pergi kemana mana dan ditinggalin gitu aja sampai malem nggak pernah balik lagi. Si nenek linglung trus jalan jalan kebingungan, keujanan sambil menggigil nggak tau harus kemana... trus si nenek bilang dia cuma inget rumahnya ada di daerah Batujajar. Gimana bisa si nenek dibawa dari Batujajar ke Gandapura yang jauh parah jaraknya trus ditinggalin gitu aja coba?

Jadi... ternyata si nenek dibuang sama anaknya dong.

Kita semua bingung. Antara nganterin si nenek ini ke panti jompo atau ke polsek yang deket situ aja. Sambil ngajak ngobrol si nenek (yang susah diajak ngomong karena cuma bisa bahasa sunda hiks), tiba-tiba ada mas-mas naik motor gitu ngelewat trus ikut nimbrung. Jadi, si mas-mas ini juga nyadar daritadi si nenek mondar-mandir kayak kesesat gitu nggak tau arah jalan pulang. Si nenek juga disitu bilang kalo dia cuma inget memorinya tiap siang doang.

"Saran saya mah ya, mending bawa ke kantor polisi aja. Jaga-jaga aja, takutnya mah modus."

Make sense dan saran yang cukup wise menurut gue. Selain karena gue juga nggak tau proses masukin orang ke panti jompo tuh gimana--ya masa langsung nitipin gitu aja kaya kucing, nggak mungkin kan?--, it's such a scary world out there. Kalo baca berita sekarang, dunia udah gila dan stranger kadang bikin gue parno. Jadi ya cari aman aja, kita bawa si nenek ke polsek deket situ. Di mobil, si nenek yang linglung nanyain terus-terusan 'kita mau kemana?'.

"Ini teh nenek mau dibawa kemana?"
 "Mau ke kantor polisi nek."
"Da nenek mah teu boga salah naha di bawa ke kantor polisi?"
"Engga nek, biar nanti dianterin pulang sama pa polisi."

3 menit kemudian...

"Ini teh nenek mau dibawa kemana?"
 "Mau ke kantor polisi nek."
"Da nenek mah teu boga salah naha di bawa ke kantor polisi?"
"Engga nek, biar nanti dianterin pulang sama pa polisi."

2 menit kemudian...

"Ini teh nenek mau dibawa kemana?"
 
Huff.... skip.
Akhirnya kita sampe di polsek. Jadi, begitu kita nyampe polsek, si nenek freaked out karena dia ngerasa takut dipenjara padahal dia nggak punya salah apa-apa. Dia cuma kepengen pulang ke Batujajar. Si nenek nangis dan sumpah... kita di situ langsung diem kepengen ikut nangis juga, speechless, bingung harus ngapain. Si nenek nggak mau stay di situ karena takut dan kita pun bingung karena udah jam setengah 10 malem juga. Polisi yang ada di situ dengan brengseknya nggak ngelakuin apa-apa. They were just like

'Wah hebat ya kalian mau nolongin si nenek'.

Hahaha.

DAN TAU GAK SIH INI TAI BANGET. Bener-bener truly definition of tai.
Semua polisi di situ nggak ngebantu sama sekali. Gini ya, kita nganterin si nenek ke polsek tujuannya kan supaya bisa ditindaklanjutin sama pihak polisi. Tapi ini mereka malah nggak ngelakuin apa-apa, dong. Mereka malah NYURUH kita (which is para cewek-cewek SMA yang masih berkewajiban buat pulang ke rumah) buat nganterin si nenek ke polsek Batujajar. The hell.. pemikirannya gimana. First thing first, kita jelas-jelas dateng ke polsek buat minta bantuan mereka supaya si nenek ditindaklanjutin. Kedua, mereka malah nyuruh cewek-cewek 16-17 tahun buat nganter si nenek jam 10 malem ke Batujajar (yang so far away banget) sementara mereka malah asik-asikan ngopi. Ketiga, salah satu komandan di situ (i dunno exactly sih, tapi polisi lain yang ada di situ manggil dia 'Dan' dengan attitude segan, jadi gue asumsikan dia komandan di situ) malah nyuruh kita ngebawa pulang si nenek ke rumah salah satu dari kita. Ya ga kebayang sih gue bawa pulang si nenek ke rumah trus bilang ke ortu 'Mah.. ini ada nenek nemu di jalan'.... kayak mungut kucing aja. Keempat, kalo emang segampang itu pun, ya kenapa nggak anda aja yang ngebawa si nenek pulang ke rumah? Dengan brengseknya si komandan itu langsung tancap gas pulang ke rumah. Bahkan dia nggak ngasih arahan ke anak buahnya (yang mungkin sama-sama bingung juga kayak kita) harus ngelakuin apa. Intinya, kita nganterin si nenek kesini aja nggak ada bantuannya samsek, nganterin si neneknya ke polsek Batujajar pun mungkin nggak akan jauh beda. Mereka mungkin malah lebih bingung kalo kita bawa kesana.

Hampir 1 jam kita di sana dan nggak dapet bantuan apa-apa, sementara waktu udah makin malem. Si nenek nangis di bahunya Mon, nggak mau ditinggal sendiri di sana. Tiap kita bergerak, si nenek ngikutin kita. Kita yang udah harus pulang akhirnya satu persatu masuk ke mobil sampe akhirnya tinggal Mon sendirian nemenin si nenek. Sampe mobil udah siap pergi di gerbang, Mon ngelepas nenek dan masuk ke mobil.

Trus tau nggak?
Neneknya lari sebisa mungkin ngejar mobil kita
sambil
nangis.

And the polices out there weren't even trying to chase her. Dibiarin gitu aja, sampai mungkin akhirnya si nenek tersesat lagi di jalan.

Di situ, seisi mobil langsung sunyi, sampe akhirnya satu persatu dari kita nangis. Rasanya tuh... miris banget. Sedih campur marah. Sedih, untuk tau nasib si nenek yang dibuang anaknya-kesesat-bingung-nggak dapat bantuan pula. Marah, sama polisi barusan yang nggak ngebantu sama sekali. Langsung keinget mama di rumah.. kalo udah tua dan nggak inget jalan pulang, akankah ditreat dengan cara yang sama?

Maafin kita nenek...


Trus Mayang ngajak kita ke istiqomah, buat shalat isya sekaligus doain si nenek. Trus taunya nyampe di sana kita nangis lagi. Huhu. Yaudah aja karena udah makin malem, kita pulang. Kita ke Dago dulu buat nganter Anas balik. Anas turun, Hani gantian nyupir trus kita caw ke arah Setiabudi nganter Mayang. Hani waktu itu masih down banget gara-gara tragedi nenek, nggak fokus ngeliat kalo lampunya udah merah dan nyenggol motor di sebelah kanan. Spontan aja dong, kita langsung buka kaca dan ngeliat keadaan mereka. Motor yang udah jatoh waktu itu ternyata ngangkut satu keluarga kecil; bapak, ibu sama anaknya yang masih kecil. Hani nanyain keadaan mereka trus bilang kita mau minggir dulu soalnya posisi kita ada di tengah jalan.

Pas Hani mau minggirin mobilnya ke tepi, di saat yang sama ada orang yang ngegebrak mobil sambil teriak provokatif
"KELUAR WOY!"

Sumpah, serem banget. Semua langsung deg-degan dan nyoba buat tenang.
Kita diminta dateng ke pos polisi yang kebetulan ada di sebrang tempat kita parkir. Di situ gue bingung, mana si korbannya... soalnya di tempat jatuh tadi dan di pos polisi udah nggak ada. Si polisi minta kelengkapan suratnya Hani, dan di saat yang sama gue nanya apa yang harus dilakuin saat itu.

"Jadi ini harus gimana pak langkahnya?"
"Minta orangtuanya ke sini dulu aja ya, Dek. Trus tunggu di sini sampai orangtuanya dateng."
"Iya udah dihubungin pak. Trus korbannya gimana?"
"Diselesaikan dengan cara damai, Dek."
"Iya, langkahnya harus gimana Pak?
"Diselesaikan dengan cara damai."
"Langkah saya sekarang harus ngapain pak?"
"Menyelesaikan masalahnya dengan cara damai, Dek."

Holy fuck you said that thrice already. Ya gue tau nyelesain masalahnya dengan cara damai bukan pake tawuran tapi sistematikanya itu loh gimanaaa!?!?!?!?

Akhirnya based on my dad instruction, gue datengin keluarga korban yang ternyata ada di seberang jalan satunya trus nanyain keadaan mereka. I saw no police there. Kesel gue, menurut gue di keadaan seperti itu prioritasnya adalah nyelametin korban, bukan ngurusin surat-surat kita dulu (karena bisa menyusul kan? sementara kondisi korban mungkin aja udah urgent, tapi polisi gaada sama sekali yang ngecek). Duh untungnya keluarga korban maklumin banget dan paham kalo itu musibah. Nggak ada sikap yang nggak mengenakkan sama sekali.

Yang provokatif ngegedor-gedor mobil (yang ternyata sampe penyok gedornya) sambil teriak tuh ternyata mang-mang gerobak yang nimbrung,
"Tadi saya sampe lari lompat dari gerobak saya."
Kesel gak sih.

Akhirnya keluarga korban kita bawa ke Borromeus buat ditanganin karena si bapaknya got some injured on legs. Kita semua nungguin sampe keluarga Hani dateng dan jam 2an gue pulang dijemput Mba Yaya sama Kak Tasdik...


What a day full of tragedy yah.

P.S: later we know that there's no serious injury on the victims. Alhamdulillah.

2. The Ending of my Apprentice Task

Kayaknya gue juga belum cerita tentang magang gue di Gogirl! as their apprentice. Jadi, anak-anak pemenang Cerita Kita Casting Call ditawarin sama Gogirl! buat jadi apprentice mereka, semacam contributor-nya website dan instagram mereka. Jelas gue mau dong pas ditawarin. Bisa buat nambah pengalaman, menuhin CV plus nambah uang saku gue juga. Gue ngambil bagian foodie dan ditempatin di bagian drinks. Hihihi syenaaang so basically tugas gue cuma liputan-makan-nulis aja kan. Untungnya gue juga kebetulan suka topiknya. Jadi enjoy banget tiap minggu keluar buat liputan pulang sekolah, makan, foto-foto, nulis dan begitu seterusnya.

Kalo bukan karena tugas apprentice juga, mungkin kamera gue nggak bakal dipake lagi. Sebenernya gue udah saving dari lama biar bisa beli Fujifilm X-E2 biar makenya praktis banget gak kayak SLR D3000 jadul gue (yang lack of feature juga sebenernya, nggak bisa foto dari screen dan nggak bisa video huhu syedi). Tapi karena belom cukup, akhirnya gue pake buat beli lensa fixed Nikkor 35mm f1.8 yang gue pikir cukup menunjang tugas apprentice gue ntar. Biar foto-foto hasil reviewnya bagus. Daaan so happy banget sih, glad that i bought it karena hasilnya pun lumayan banget (tapi masi pengen X-E2 juga huhu).

Masa apprentice gue berlangsung selama 3 bulan kontrak. And to be honest, those 3 past months were full of ups and downs. Masa apprentice bikin gue belajar cara me-manage waktu yang baik, mulai dari misahin waktu nugas, liputan (yang kadang bisa sampe ke beberapa tempat dalam seminggu), sekolah, dan lain lain. Temen-temen ngeliat masa magang gue ini adalah hal yang super asik karena gue kerja untuk makan, foto dan dibayar. Hufff... ternyata tidak semuanya menyenangkan, people. Hahaha.

Gue jadi ingat beberapa minggu lalu, gue berencana dan udah buat janji dengan human resources sebuah kafe di Bandung untuk ngeliput kafe mereka. I was nervous since it was my first reporting. Tau ketakutan gue apa? Being underestimated. Tapi gue terus meyakinkan diri gue dengan bilang 'It's okay. It's going to be okay. Professionals don't discriminate work by age. Mereka pasti objektif, kok'.

Waktu gue nyampe di sana, orang yang menyambut kedatangan gue tampak surprised dengan air muka bingung sambil bilang,

"Loh, masih muda banget ya ternyata."

But she was nice. The interview went not as well as i hope, karena gue ngerasa kaku banget di situ. Awkward, nervous, that's what i felt. Gue pun minta izin buat ikut fotoin proses pembuatan minuman di balik bar. Here comes the bad part.

Gue yang lagi ada di pantry lagi ngefotoin si barista yang lagi demo bikin minuman. Ternyata, di bar itu kebetulan lagi ada owner kafenya, tepat di seberang gue sama si barista. Gue nyadar lagi diperhatiin, tapi gue saat itu focus on taking pictures. Sampe akhirnya si owner ngeluarin smirk-nya, trus evil laugh bilang

'Serius? Haha, masih SD kali yang ada!'

dan si barista pun ikut ngekeh ketawa trus ngelirik gue.

I was beyond mad. Ketakutan gue bener-bener jadi kenyataan. Di situ gue langsung minder parah. Langsung insecure banget dan kesel. Pengen ngembaliin mood juga nggak bisa jadi baik lagi. Selesai reporting dan foto-foto, gue nyuruh kakak gue ngabisin treats yang mereka kasih karena gue nggak punya appetite buat konsumsi itu semua. Kata-kata si owner cafe yang tadi terus kebayang-bayang di kepala gue.

My sister knew there was something wrong. So we hurried up our work and said goodbye early. Sebelumnya, kita ditawarin buat ikut cupping tapi gue menolak dengan alasan ada liputan lagi setelahnya. I just can't stand longer there. Jadilah, begitu nyampe mobil, gue langsung nangis dan cerita tentang perilaku si owner cafe yang sangat nggak menghargai gue dan malah insult gue. I swore that i'll never go back to his cafe anymore. Gue jadi insecure parah buat liputan selanjutnya.

It was a bad moment, tapi setidaknya ngebuat gue belajar. Di liputan selanjutnya, gue lebih dandan dan make baju yang lebih dewasa supaya meminimalisir kemungkinan bakal di-underestimate karena physical appearance gue yang mungkin remaja banget. Nah di liputan selanjutnya ini, justru sangatlah sebaliknya. Gue diperlakukan dengan sangat sangat baik sama manajernya, even dia tahu gue masih anak sekolahan. Dia melihat gue sebagai pekerja yang melakukan tugasnya, bukan sebagai anak remaja tanggung. He even said he was proud of me and what i'm doing in my life for such a young age. Beliau orang yang sangat respectful dan objektif. Kontradiksi banget sama liputan sebelumnya. Maka dari situ gue bisa menilai owner cafe yang nge-insult gue kemarin sangatlah nggak profesional, and i realized that i shouldn't have to be insecure because of a person like him. So, the second reporting process went really well and fun, they even treated me with lots of foods.

Someone said to me, 'Udah, kalo gitu mah review cafe A didikitin aja dan dikritik lebih pedes, kalo cafe B dibanyakin!"
I was thinking of it too, but it wasn't happened. If i did so, that made no difference between me and the jerk cafe owner that once insulted me, which is being unprofessional and subjective.
Biarkanlah masalah itu nyangkut di urusan pribadi aja, nggak usah memengaruhi penulisan review gue terhadap cafe tersebut.

And yeah, my apprentice task is over now. Sebetulnya gue pengen banget ngeperpanjang masa apprentice, unfortunately ngeliat waktu belajar dan les gue di kelas 3 yang gila-gilaan bikin gue harus nolak tawaran tersebut. But really, it was such a HUGE lesson. Mungkin pelajaran yang gue dapetin selama 3 bulan sebagai 'pekerja' hanyalah sebagian kecil dari realita dunia kerja. But still, i embraced it and i'm so glad that i got the opportunity to experience them in such young age.

Bagi yang mau liat artikel-artikel foodie gue, cek di websitenya Gogilrl! ya :)

3. Worst Mudik Ever!

Salah satu momen di bulan Juli yang nggak bisa gue lupain adalah waktu mudik. Seriously, it was the worst mudik ever! Biasanya, perjalanan mudik gue dari Bandung ke Slawi nggak lebih dari 12 jam. Tapi ternyata tahun ini rekor banget, nyampe 22 jam. Sebenernya gue fine fine aja mesti berlama-lama di perjalanan, tapi ngedenger stok bensin di tiap pom bensin Jawa Tengah pada habis (sampe bikin mobil-mobil kehabisan dan ngantri bensin. Btw waktu itu saking langkanya bensin dijual eceran sama calo sampe seharga Rp50.000 perliter), keluarga gue parno bakal kehabisan bensin di tengah jalan. Akhirnya kita cuma nyalain mesin mobil pas ada pergerakan doang (itu pun pergerakannya mini banget cuma beberapa meter).

Gara-gara itu, kita terpaksa juga harus nahan nggak pake AC di sepanjang siang bolongnya Brebes yang panasnya udah kayak oven. I wet my shirt and even cried for it, soalnya gak nyampe nyampe huhuhuhu dan pergerakannya super dikit di saat jaraknya masih jauh gila. Kita literallty kejebak di tengah ladang jagung, siang bolong, frustasi. Sumpah it was the most frustrating moment i've ever had. Gue nggak yakin bakal ikut mudik tahun depan.

4. School is starting

Kali ini gue lebih excited pergi ke sekolah dibanding sebelum-sebelumnya. I'm trying to make the best out of it, apalagi masa belajar gue di sekolah cuma tinggal 8 bulan. Senior year, baby! 

Label: ,

@ 7:43 PM
Minggu, 26 Juni 2016
I exist as I am, that is enough -- Walt Whitman

Label:

@ 8:18 PM
mimpi, realita dan dikejar waktu
Kamis, 23 Juni 2016
When you were young enough
Doing all that fun kid stuff
Did you think of what you'd be?

Marco Polo in the pool
Kickball games behind the school
Playing tag and hide 'n' seek

When you grow up, what kind of boy will you be?
Oh, what will you be?

Drawing pictures with some chalk
Raindrops wash it from the walk
Summer days it never ends

Spin the bottle on the ground
Watch it turning round and round
Maybe he will be my friend

When you grow up, what kind of girl will you be?
Oh, what will you be?

Will you write a book or invent a machine?
Will you be an astronaut or will you sail the sea?

(What will I be when I grow up?)
La la, la la, la la, la la
(What will I be when I grow up?)
(What will I be when I grow up?)
(What will I be when I grow up?)

When you grow up, what kind of person will you be?
Oh the things you'll be happy 

-------------------------------------


Waktu SD, saya punya banyak mimpi. Mulai dari jadi presiden kayak Megawati, jadi polisi biar kayak papa, jadi penulis KKPK yang dimana dulu hits banget, jadi host natgeo traveler kayak Ishai Golan, jadi hacker (sumpah).

Waktu SMP, mimpi saya jadi lebih sempit. Sebatas bisa masuk SMA 3 Bandung, masuk Unpad kayak kakak, terus masuk jurusan hukum atau akuntansi supaya nantinya bisa jadi notaris atau akuntan, dimana mostly mimpi-mimpi itu adalah mimpi ibu saya.

Masuk SMA, saya malah jadi males buat bermimpi. Mimpi saya jadi presiden kayak Megawati dulu? Funny to think how much i dislike her now. Saya juga benci banget politik dan muak liat berita tentang politik. Mimpi jadi polwan? Lebih lucu lagi sih ini, mengingat sekarang saya malah berharap if only papa nggak jadi polisi aja supaya bisa tumbuh bareng anak-anaknya. Mimpi jadi penulis novel? Saya bahkan nggak lagi menyukai nulis cerita. Mimpi jadi host natgeo traveler? Seriously, how many chance that a socially-awkward person could be a tv host???

See, you just read the skeptical thoughts of mine. And realized how a self-labeler i am.

Semakin kita tumbuh dewasa dan dihadapin realita, kita jadi takut buat bermimpi, iya nggak sih? Karena kita tahu, realita itu nggak indah dan bermimpi kadang hanya bisa membuat kecewa.

Tapi, realita juga bikin saya sadar--kita nggak bisa terus takut sama masa depan. Realitanya, siap ataupun engga, pada akhirnya kita harus memilih. And to chose the decision that basically will change the whole life in front of us, we need to be sure.

Kita dikejar waktu, kawan.
Dikejar waktu untuk yakin terhadap pilihan kita.
Dikejar waktu untuk tahu apa yang sebenarnya kita inginkan.
One last year.


When you grow up, what kind of person will you be?

@ 4:27 PM
PSP
Kamis, 28 April 2016
Halo, semuanya!

Nggak kerasa udah mau bulan mei lagi. Bulan ke-5. Resolusi saya di awal tahun 2016 buat nulis tiap minggu dengan embel-embel 52 weeks blog challenge ternyata lapur gitu aja jadi sebatas wacana hahaha. Tae banget. Sebenernya pengen banget bisa ngeblog rutin tiap minggu, tapi apadaya kadang lupa atau nggak sempet. Anyway, rutinitas dan kesibukan saya akhir-akhir ini disponsorin sama kegiatan PSP di sekolah. Bisa dibilang, kesibukan PSP ini jadi wake up call saya kalo saya sekarang lagi di masa SMA. Entah gimana ya, tapi saya baru ngerasa momen SMA dimulai semenjak kegiatan PSP ini dimulai, hehe.

Oh ya, PSP itu event Pekan Seni Pelajar yang rutin diadain di sekolah saya tiap tahun di kelas 11. Semacam art performance gitu deh. Angkatan saya, 2017 kebetulan dapet giliran teater. Awalnya rada kecewa sih kenapa nggak film aja (sooooide) tapi setelah dijalanin dan dipikir-pikir lagi, theatre was okay too. Malah bisa dibilang ngebuat saya sama anak kelas lainnya yang nggak begitu deket jadi bonding satu sama lain. Lewat teater, kita eventually dipaksa buat latihan gabungan terus menerus bareng-bareng dibanding film yang take-nya bisa diambil sesuai sama kebutuhan perannya dan shooting-nya bisa jadi misah-misah. Jujur aja, saya baru ngerasa (sok) 'sibuk' di SMA lewat kegiatan PSP (karena pas event f2wl rasanya nggak sesibuk 'itu' --kecuali waktu saya masih gabung divisi acara).  Nama tim produksi kelas saya 'La Sociale'. Simpel, ya? Dari namanya juga semua bisa tau kalo itu kelas IPS. Anyway, di tim produksi kelas, saya kebetulan dapet job jadi sutradara.


...saya juga nggak ngerti kenapa saya bisa ditunjuk (dan pasrah aja) jadi sutradara.

Saya literally buta b a n g e t  soal teater.

Here's the thing. Waktu awal masuk SMP, saya sempet kepengen masuk ekskul teater (setelah dibujuk rayu kakak kelas yang ekskulnya teater juga)... simply karena Citra Kirana jebolan ekskul teater sekolah saya (ya.... terus.... kenapa....). TAPI. Iya ada tapinya. Setelah ngeliat how they works and performs pas demo ekskul (dimana mereka kabaret gitu di tengah lapang diliatin ratusan anak), saya langsung mundur kabur gak jadi ikut first meeting perekrutan anggota teater yang baru hahahaha! Theatre is not my thing. I didn't have the guts to act in front of hundred peoples. Jadi, yap, sampe saya kepilih jadi sutradara PSP kelas pun saya gak tau apa-apa soal teater.

Thanks to Tuti ma bestie (btw kalo dibaca bagus siah berima) dan Kana, mereka berjasa banget ikut nyumbang based-idea cerita PSP kelas saya. Proses pengajuan sinopsis alhamdulillah nggak ada kendala sama sekali dan langsung di-acc sekali cek. Yang jadi kendala adalah.. script yang gonta-ganti dan harus direvisi berulang kali (even sampai H-1 gladi kotor kemarin) karena satu dan lain hal.

Ternyata jadi sutradara asik. Saya jadi salah satu orang di balik layar, bukan di depan (saya ogah banget kalo harus acting). Mulai dari casting pemain, latihan per-scene, ngatur keluar masuknya pemain, diskusi ini-itu sama koordinator tari, properti, musik & video sampe latihan gabungan. Dua bulan ini kita lakuin semuanya lancar banget, guys. Nggak lancarnya cuma di bagian kelas kita nggak pernah nggak ngaret kalo ada latihan yang kadnag-kadang leletnya bikin gondok setengah idup.

Gara-gara PSP ini, saya nggak ada waktu buat ngadain me-time di waktu weekend (re: leha-leha nonton tv dan bolak balik dapur). Sabtu & minggu pasti latihan. Anyway, jujur aja saya sempet hopeless banget sama progress PSP kelas. Kayak udah mau nyerah, kalah duluan aja. Abis jenuh banget ga boong latihan mulu, apalagi kalo ada yang harus diulang-ulang supaya lancar. Tapi begitu udah mulai latihan gabungan sampe akhir... terharu. It's like piece to pieces of a puzzle finally collected and united together. :')

Kita baru aja gladi kotor (re: penilaian oleh panelis) hari Sabtu kemarin, and suprisingly hasilnya lumayan bagus! Saya dan yang lainnya tinggal prepare buat hari H, 14 Mei di Taman Budaya Jawa Barat. So, seems like i need more 2 weeks to rest my ass off! Saya kangen banget bisa males-malesan seharian di ruang tv dan istirahat. Kayaknya rumah saya sekarang cuma jadi persinggahan sementara buat tidur doang huhu.

However, saya rasa PSP bakal jadi salah satu kenangan SMA yang krusial. I tried so hard to make these past 2 months (of my precious leha-leha time) worth it. Dua bulan ini, saya ngerasa kepribadian saya ngalamin progress ke arah yang lebih baik. I took the risk dan belajar buat keluar dari comfort zone, cobain hal baru, belajar buat nyelesain tantangan & ngadepin kejadian (dan assholes) yang nggak menyenangkan.

PSP kurang dari 3 minggu lagi. Doain saya dan teman-teman, yaaa. (plis)(wajib)(maksa)(hehe)(bye).


Label:

@ 9:51 PM
kenapa saya suka blogging
Rabu, 20 April 2016
1. i have lot of thoughts to be expressed though sometimes they couldn't be fathomed into constellation (lah)
2. i didn't write it for anyone's comment
3. gaada yang komen aneh-aneh (re: ngejek) kalo saya ngepost yang melankolis

Label:

@ 8:03 PM
generalisasi
Senin, 18 April 2016
Kita nggak bisa menggeneralisasikan orang itu jahat atau baik. I used to generalize people, dan menurut saya semua orang juga pernah begitu. Apalagi ketika kita kecil, kita seringkali mendeskripsikan orang 'baik' atau 'jahat'. Misalnya, waktu saya kecil, saya pernah ngadu ke ibu saya kalau temen saya si A tuh jahat banget, ngomongin saya di belakang dan sangat attention-seeker... dan betenya lagi dia adalah copycat saya meski dia seringkali mengejek selera saya di awal! Jadinya, sampai saya SMP saya terbiasa 'mencap' dia sebagai orang yang 'jahat'. Kita terbiasa dengan pendeskripsian banyak orang tentang 'orang jahat' dan 'orang baik'. Padahal, itu semua hanya generalisasi subjektif.

Seiring dengan berjalannya waktu, saya punya konklusi dan opini tersendiri tentang itu. Pendeskripsian 'pembunuh, pemerkosa, pencopet, penculik' sebagai 'orang jahat' adalah hal yang salah menurut saya. Mereka orang yang melakukan kesalahan, betul. Tapi rasanya nggak adil kalau disebut orang jahat. Well, sebenarnya balik lagi ke subjektifitas masing-masing sih.

Menurut saya, manusia itu abu-abu. Setiap orang itu abu-abu. Nggak ada yang 100% melakukan hal yang benar dan 100% melakukan hal yang salah. Tapi, setiap manusia berhak menentukan pilihan-pilihan yang membuat pribadinya abu-abu terang ataukah abu-abu gelap. Makanya, saya rada gemas kalau ada yang mendeskripsikan orang sesimpel baik atau jahat. Karena manusia nggak ada yang sesimpel itu buat dideskripsikan. Humans are complicated. We are both good and evil. Jadi, instead of mendeskripsikan orang itu 'baik', saya kadang mikir lama buat mencari kata yang cocok untuk dia. Apakah dia orang yang dianggap baiknya karena humble sama orang baru, cheerful, helpful, pengertian, ataukah dia dianggap jahat karena doyan mocking, rasis, matertialistis, dan lain-lain.

That's why i think we all need to be prepared for everyone's judgement. Because we both good and evil. We can't be just black & we can't just be white. Ada orang yang nganggep kita baik dan ada yang nganggep kita jahat. Pendeskripsian itu bergantung dari standar setiap orang. Kamu frugal atau enggak, kamu humble atau enggak, itu semua dinilai dari standar tiap orang yang pasti beda-beda. Makanya nggak jarang this kind of conversation happened:

"Kata lo kemaren dia jayus banget, padahal engga kok?"
"Apaan dah orang segitu jayus banget orangnya?!" 


So the point is, learn to deal with it karena dua-duanya benar. Tergantung standar setiap orang.

Makanya, kalo ada yang bilang saya orang yang jahat atau baik,
jangan dijadikan stigma atau ekspektasi
ya?

Hehe.

@ 2:19 PM